Ada beberapa sumber yang membuat sejarah tentang Pakkat, bebrarapa artikel yang saya ambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pakkat%2C_Humbang_Hasundutan adalah sebagaian kecil kisah sejarah kota Pakkat itu sendiri. berikut adalah petikannya…
Sejarah Pakkat dimulai dari migrasi orang-orang marga Pohan (Pardosi) ke Gotting atau Tukka yang sekarang masuk dalam wilayah kec. Pakkat atau dikenal dengan negeri Rambe.
Naskah Jawi yang dialihtuliskan di sini dipetik dari kumpulan naskah Barus dan dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus.
Kisah dalam buku tersebut dimulai dengan kata-kata “Bermula dihikayatkan suatu raja dalam negeri Toba sila-silahi (Silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan .” Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian dan dalam kisah itu tercatat bahwa anaknya, Alang Pardoksi (Pardosi), meninggalkan jantung tanah Toba untuk merantau.
Alang Pardosi meninggalkan keluarga dan rumahnya sesudah bertikai dengan ayahnya; bersama istri dan pengikutnya dia berjalan ke barat. Dalam sepuluh halaman pertama diceritakan perbuatan-perbuatan Alang Pardosi yang gagah berani, tanah yang dinyatakannya sebagai haknya di rantau, jaringan pemukiman baru yang didirikannya, dan perbenturannya dengan kelompok perantau lain dari Toba.
Alang Pardosi mengklaim hak atas sebidang tanah yang luas, yang merentang dari Kampung Tundang di Rambe (Pakkat sekarang), tempat ia menetap, ke barat sampai Singkil, ke timur sampai perbatasan Pasaribu, ke hilir sampai ke tepi laut. Termasuk di dalamnya Barus.
Keluarga yang berselisih dengan Alang Pardosi adalah keluarga Si Namora. Si Namorapun telah meninggalkan rumahnya di Dolok Sanggul sebagai akibat percekcokan dalam keluarga. Bersama istrinya dia menetap di Pakkat, dan Alang Pardosi, Sang Raja, menyadari kehadirannya ketika pada suatu hari dilihatnya sebatang kayu yang mengapung di sungai. Raja memungut upeti dari Si Namora sesuai dengan adat berupa kepala ikan atau binatang apapun yang dapat dibunuh Si Namora.
Si Namora berputera tiga orang yang beristrikan ketiga puteri Alang Pardosi. Akhirnya yang sulung dari ketiga putera Si Namora yaitu Si Purba, mengambil keputusan untuk mempermasalahkan hubungan antara kedua keluarga sebagai pemberi dan penerima upeti. Maksudnya itu dilaksanakan dengan mengakali Pardosi.
Untuk itu dia harus kembali ke kampung ayahnya di Toba; dia harus mengumpulkan kekayaan keluarga berupa kain dan pusaka. Lalu dari kain-kain itu Purba membuatkan patung seekor rusa yang rupanya bukan main hebatnya dan kepalanya dipersembahkan kepada Pardosi sebagai Upeti. Alang Pardosi begitu takut melihat persembahan tersebut dan begitu takut melihat binatang tersebut dan membebaskan keluarga Si Purba dari ikatan memberi upeti.
Setelah Alang Pardosi diperdaya, dia mencium adanya gugatan mengenai kedudukannya sebagai raja. Perang meletus dan si Purba memakai penghianatan untuk mengusir Alang Pardosi dan mengambil alih pemukimannya di Si Pigembar. Sebuah kudeta terjadi. Alang Pardosi kemudian mendirikan pemerintahan “in exile” di Huta Ginjang, kota yang baru dibangunnya.
Namun ada pembalasan dari pihak raja yang terusir. Saat kepemimpinan Si Purba pemukiman dirundung kelaparan. Raja yang sah, Alang Pardosi, diminta kembali untuk mengobati keadaan. Namun dia menolak dan meminta supaya si Purba membuatkannya rumah di Gotting, sebuah bukit antara Pakkat ke Barus, bukit tersebut dibelah oleh sebuh jalan yang menyempit di antara dinding batu napal yang keras, sekita lima kilometer dari Pakkat menuju Barus, di atas sebuah jalan sehingga semua orang yang ingin melalui jalan tersebut harus lewat di bawah rumahnya. Kedudukannya di sedemikian di persimpangan jalan-jalan penting memberi kekuasaan besar kepada Alang Pardosi yang menjadi raja yang paling berkuasa dari raja-raja Negeri Batak. Si Purba, kemudian, tinggal di tanah yang dibukan ayahnya yaitu Tanah Rambe atau Pakkat.
Jadi dalam kronik, Raja Alang Pardosi dengan demikian ditentukan sebagai pendiri garis keturunan baru. Proses ini berlanjut terus seusai dia wafat. Kedua anaknya, dari istri kedua puteri Aceh; Pucara Duan Pardosi dan Guru Marsakot Pardosi berpisah dan pindah ke arah yang berlainan supaya tidak bertikai.
Pucara Duan tinggal pindah ke arah pantai dan menetap di daerah Tukka yang pada abad ke-19 merupakan pusat besar untuk penghimpunan persediaan kapur barus dan kemenyan dan dari sana dibawa ke Barus.
Guru Marsakot pindah lebih dekat lagi ke tepi laut, ke suatu tempat yang bernama Lobu Tua. Di sana dia berjumpa dengan komunitas Tamil dan Hindu yang kapalnya terdampar. Guru Marsakot dijadikan raja mereka berdasarkan tuntunanya bahwa keluarganya mempunyai tanah tersebut. Maka tanah tersebut berkembang menjadi negeri yang makmur dengan nama Pancur atau Fansur menurut istilah Arab dikenal juga bernama Fanfur, yang didatangi orang India, Arab dan Aceh untuk berdagang.
Kedua cabang keluarga tersebut tetap berhubungan sampai dalam generasi berikutnya. Maka ketika anak Pucaro Duan, Raja Tutung (Raja Tuktung), terlibat dalam perselisihan dengan anak dan pengganti Si Purba, cabang keluarga dari Lobu Tua datang membantunya.
Saat Guru Marsakot wafat, ia digantikan oleh anaknya, Tuan Namura Raja. Anaknya, Raja Kadir, adalah raja pertama yang menjadi Muslim. Akhirnya Fansur diserang oleh orang “Gergasi” dan penduduk lari menyeberangi sungai untuk mendirikan dua pemukiman baru, Kuala Barus dan Kota Beriang.
Pada masa inilah, seorang putera Pasaribu, Sultan Ibrahimsyah Pasaribu mendirikan pemukiman di Barus bersama pengikutnya yang datang dari negeri Tarusan, di Minagkabau dan singgah terlebih dahulu di Bakkara. Mereka adalah keturuna Dinasti Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti, putera Tatea Bulan. Saat pemukiman Sultan Ibrahimsyah telah berkembang, dia baru menyadari bahwa tanah tersebut sudah ada yang menguasainya.
Anak dari Sultan Mualif, pengganti Raja Kadir setalah wafat, Sultan Marah Pangsu Pardosi, menggugat Ibrahimsyah yang menetap di negerinya. Namun Ibrahimsyah mengangkat sumpah untuk membuktikan bahwa dialah yang menjadi pemiliknya. Kompromipun terjadi dan didirkan dua pemukian di barus, yang satu di Hulu dan yang lain di Hilir.
Sultan Ibrahimsyah kemudian menikah dengan Putri Sultan Marah Pangsu. Dalam perkembangan politik berikutnya, saat wafatnya Sultan Marah Pangsu, Ibrahimsyah membunuh semua anak laki-laki Marah Pangsu agar dia bisa menjadi satu-satunya raja di Barus.
Ternyata otoritas kerajaan hulu dipegang oleh saudara Marah Pangsu yaitu Sultan Marah Sifat yang telah mengunsi dan membuka wilayah baru bernama Si Antomas (Manduamas?) pada tahun 710 Hijriyah. Marah Sifat berkoalisi dengan Aceh untuk memeriangi Ibrahimsyah Pasaribu. Sultan Aceh menyatakan perang kepda penguasa tunggal Barus, Ibrahimsyahpun dipenggal dalam sebuah perang penyerbuan ke Barus pada tahun 785 Hijriyah.
Kepalanya dibawa ke Aceh dan Raja Aceh menendang dan menghinanya. Sebagai akibat perlakukan Ibrahimsyah yang marah dan tidak mau menyesal. Namun, karma terjadi kepara penguasa Acej tersebut dan dia jatuh sakit. Supaya sembuh, dia memutuskan untuk membayar kerugian kepada kepala tersebut.
Kepala Sultan Ibrahimsyah dikirim kembali ke Barus dengan kekhidmatan dan upacara kerajaan, diiringi sepucuk surat yang membebaskan Barus dari keharusn membayar upeti kepada Aceh.
Sesudah itu kedua keluarga raja Barus; Pardosi dan Pasaribu, hidup berdampingan selaman beberapa generasi dalam hubungan yang kurang lancar. Marah Sifat digantikan oleh anaknya Raja Bongsu, Sultan Marah Bongsu. Ibrahimsyah digantikan oleh Sultan Yusuf dengan gelar Raja Uti yang kemudian gugur di Aceh ketika membalas dendam atas kematian ayahnya. Dia digantikan oleh Sultan Alam Syah yang mempunyai dia anak Raja Marah Sultan dan Sultan Nan Bagonjong Pasaribu.
Pada masa ini peraturan dan undang-undang negara dikodifikasi. Termasuk adat dan tatacara upacara dan pengangkatan pembesar. Hukum dan undang-undang yang berlaku adalah perbaduan adat Batak, adat Melayu, adat Aceh, adat Hindu dan adat orang Islam. Lebih jelas mengenai detail undang-undang tersebut lihat nahkah asli dari hikayat tersebut.
Pada tahun 1050 Hijriyah atau atahun 1644 M, Belanda datang dan meminta ijin untuk bermukim dan mendirikan koloni perdagangan di Barus.
Kronik dalam buku hikayat ini juga menceritakan bahwa kepemimpinan raja-raja belia dari hulu dengan bendahara (perdana menteri) berasal dari hilir selama mereka belum akil.
Yang pertama dari bendahara itu ialah Marah Sultan, wali untuk anak Maharaja Bongsu, Raja Kecil. Sultan Maharaja Bongsu sendiri pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya. Pada waktu itu Marah Sultan beristrikan saudari Raja Kecil. Sesudah Marah Sultan wafat, anaknya, Sultan Marah Sihat, memfitnah Raja Kecil; kepada Daulat, raja Minang, diceritakan bahwa Raja Kecil tidak mengenal agama dan tidak mau mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan. Termakan oleh fitnah jahat tersebut, Daulat membunuh Raja Kecil. Pendukung Kesultanan Pardosi, yakni orang-orang Manullang mengajak Belanda untuk memerangi Raja Daulat. Dia akhitnya melarikan diri.
Meskipun demikian Sultan Marah Sihat menyarankan agar Raja Muda di Hulu Sultan Marah Pangkat Pardosi yang diangkat menjadi pengganti raja dan bukan anaknya sendiri yang bernama Sultan Larangan Pasaribu. Sultan Pangkat dianggapnya layak menjadi raja tunggal sebab dialah yang memegang pusaka-pusaka yang tepat.
Sultan Marah Pangkatpun diangkat menjadi raja pada tahun 1170 Hijriyah. Setelah dia wafat dia digantikan oleh putera mahkota Sultan Baginda Pardosi pada tahun 1213 Hijriyah. Di masa kepemimpinan Marah Pangkat, dia melakukan banyak pembaharuan olitk dan hukum. Diantaranya, beberapa peraturan mengenai hak tanah, perbatasan kerajaan dan adat yang berlaku kepada rakyatnya di Barus.
Pada tahun 1194 Hijriyah, perusahaan Belanda hengkang dari Barus karena tumpur dan bangkrut. Beberapa tahuan sebelum abad ke-20 mereka kembali lagi.
Raja di Hilir, Sultan Larangan marah dan kecewa dengan sikap ayahnya tersebut. Maka dia meninggalkan Barus dan menetap di Sorkam. Di sana dia menamakan diri Tuanku Bendahara meskipun dia tidak memegang tampuk pemerintahan.
Kompetisi kekuasaan antara penguasa Hulu dan Hilir yang digambarkan sebagai pertikaian Barus dan Sorkam berlangsung beberapa generasi. Di Barus, putera Sultan Marah Pangkat yakni Raja Adil, menggantikan ayahnya dan memperkukuh perjanjian-perjanjian yang ada antara Barus dan berbagai daerah Batak pedalaman. Raja Adil diangkat menjadi raja pada tahun 1213 Hijriyah (1789 M). Pada tahun 1241 H (1824 M) digantikan oleh anaknya sendiri Sultan Sailan Pardosi.
Di Sorkan sesudah Sultan Larangan wafat, saudaranya Sultan Kesyari Pasaribu mengadukan kepada komunitas Batak Pasaribu kedudukannya yang rendah, wewenangnya yang kurang besar dan alat kerajaan yang tidak boleh dipakainya. Dia berhasil, akhirnya dia diangkat menjadi Raja Bukit di Sorkam, meskipun raja Barus tidak mengakui otoritasnya.
Sultan Kesyari wafat dan digantikan oleh puteranya Sultan Main Alam. Dia terlibat perselisihan dengan kesultanan Pardosi, Sultan Sailan yang bergelar Tuanku Raja Barus. Tuanku Raja Barus tidak mengijinkan Sultan Main Alam Pasaribu untuk menggunakan alat-alat dan simbol-simbol kerajaan dalam pernikahannya.
Sultan Pasaribu ini meminta pertolongan politk dengan komunitas Meulaboh (Aceh) yang berdomisili dalam koloni mereka di Kota Kuala Gadang, Barus. Main Alam mendapatkan keinginanya saat dia diakui menjadi raja mereka dan memberinya gelar Tuanku Bendahara. Perang meletus. Antara Pasukan Pardosi dengan Pasukan Pasaribu yang didukur prajurit-prajurit Meulaboh dan Aceh dari Kuala Gadang. Dikisahkan, orang Meulaboh ternyata juga ingin mendapat pembagian kekuasaan di Barus.
Sultan Baginda pardosi wafat pada tahun 1241 Hijriyah dan digantikan oleh Putera Sultan sailan. Setelah Sultan Sailan wafat dia digantikan oleh putranya Sultan Limba Tua. Di era ini belanda sudah mulai berkuasa. Mereka berhasil menduduki Barus dengan mengadu domba antara penguasa Hilir dan Hulu Barus yang selama beberapa genarasi saling bunuh-bunuhan walau mereka sudah terikat tali perkawinan satu sama laina. Selama tiga generasi berikutnya Kesultanan Batak yang dipegang oleh Kesultana Pardosi dari Tukka dan Kesultanan Pasaribu keturunan Kerajaan Hatorusan, Raja Uti, pun akhirnya punah. Kesultanan Pardosi berakhir ditangan generasi terakhir Sultan Marah Tulang yang menjadi raja pada tahun 1270 H atau sekitar tahun 1856.
Kesultanan Pardosi, mulai dari Raja Kadir Pardosi yang masuk agama Islam sampai generasi terakhir berasal dari satu keluarga dan pewarisan tahta yang dipegang oleh satu keluarga. Yaitu orang Batak yang berasal dari Tukka.
Silsilah Dinasti Kesultanan Batak Pardosi di Barus.
Raja Tua Pardosi Raja Kadir Pardosi Raja Mualif Pardosi Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah) Sultan Marah Sifat Pardosi Tuanku Maraja Bongsu Pardosi (1054 H) Tuanku Raja Kecil Pardosi Sultan Daeng Pardosi Sultan Marah Tulang Pardosi Sultan Munawah Syah Pardosi Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H) Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H) Sultan Sailan Pardosi (1241 H ) Sultan Limba Tua Pardosi Sultan Ma’in Intan Pardosi Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H)
Benar tidaknya cerita ini sangat perlu untuk di kaji ulang, mengingat bahwa daerah pakkat merupakan pertemuan dari beberapa marga/klan dan sampai saat ini belum ada alur sejarah yang resmi dari pemerintahan kota pakkat sendiri.











April 18, 2008 pukul 5:37 am
gabe masihol iba naeng mulak tu huta…….
hidup pakkat, sukses tu joloan on…
GBu
Juni 7, 2008 pukul 11:29 am
Dasar tokke latteung, satonga mangolu au mangalului bahasa langka i, ai basa ditabunihon ho muse?
Swy
Juni 9, 2008 pukul 7:47 am
horas pakkat
Juni 9, 2008 pukul 8:12 am
Heyyy Makdin!!
Ho doi kale? Si makdin par Hauagong dongan sakalas nami hian??
Alusi jo au bah.. molo inon do.
Nga boha kabar kale??
Masihol iba tu hamu sude
Juni 9, 2008 pukul 9:36 am
oo tahe……
akka parpakkat on,…..
nga boa kabar muna be kale-kale….
ai si Makdin on apala pardijabu ni si Pakdin do tahe??
ima apala omak ni si Din???
Juni 9, 2008 pukul 10:12 am
Bah,…. (santabi da kale-kale), berarti Nai Din ?
Sai samudekna do dibahas ningon dah ?
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
Juni 13, 2008 pukul 2:04 pm
Cukup bagus perlu ditingkatkan dan di sebarluaskan
url nya.
Thanks
Dr. John T. Purba
Juni 13, 2008 pukul 3:42 pm
Horas di Bapai selamat datang di “jabutta” on. Senang sekali rasanya mengetahui Bapak berkunjung kesini dan nasehat-nasehat dari Bapak sangat kami banggakan supaya bisa semakin meningkatkan mutu/kwalitas “jabutta” on, tempat kita untuk mendiskusikan dan berpartisipasi dalam meningkatkan hutatta natahaholongi: PAKKAT.
Horas PAKKAT.
Semoga sejahtera.
swandy sihotang
Juni 17, 2008 pukul 6:58 pm
Ise do Bapak on??
Kependekan dari Bapak Jepur mantan Kepsek nami hian di SMA RK Pakkat do tahe?
Horas ma Bapak !!
Juni 18, 2008 pukul 1:44 am
Horas ma…
Dison adong hubereng anggotatta na jago. Horas ma di bapai Dr. John T. Purba. Mohon maaf, Kira-kira lokasi tempat tinggal dimana saat ini. Nah kepada moderator Bapak ini layak dijadikan salah satu Tokoh Pakkat. Silahkan amang memberi masukan yang berarti untuk kemajuan Pakkat.
Hidup Pakkat…
Horas..selamat bekerja dan oraet labora…
#Lae Nahampun
Mauliate atas Masukanya, kalau ada waktu dan kesempatan, nanti akan kami masukkan disini…
amang ini berasal dari desa baringin,
Juni 18, 2008 pukul 2:53 am
I do appara niba si Swy on bah, ittor di bahen do songon na dihitaan i, akke hamuna ?.
Molo najungkan i di hitaan, hata BAPA i, holan tu akka guru do. ndang AMANG didokkon.
SOMALna, (terutama par SMP N1 Pakkat) molo pajuppa iba dohot Guru di dalan (Molo ndang boi iba MANIDING / MARIMBOS monggop tu rabba-rabba manang tu SAPPILPIL i / ndang tarelakkon be) ittor wajib do murid i manegor / manukkun naeng tu dia guru i.
Sai sarupa do sude sukkun-sukkunna :
” BAH !, TU DIA BAPA I” ningon do.
Hape nang dah, nga binoto nian nanaeng tu PASSUR do guru i,
Alana nga binereng Guru i maniop BASAN-BASAN dohot HANDUK laho MARTAPIAN (maridi).
jala ittor dialusi do sasintongna /dgn SEJUJURNYA :” LAHO MARIDI DO BAH ” inna mangalusi.
Alai molo sinungkun ibana kani molo pas PAJUMPANG di balik ni SAPPIL-PIL manang DIBALIK BATANG NI HAPEA molo pas MARKATAPEL iba, DIPAPILIT do alusna.
Bah ! ittor MARGABUS do diula BAPA (GURU) i.
Molo nisukkun kani songon nangkin ,”tudia bapa i ” ningon tu bapai,
Alusna : ” NA MAMOGAS LANDUT DO ” ninna do.
Hapengna nanaeng MANUAN PEGE (MAMBOM) do ibana, tu balik ni sappilpil i, dungi museng, AI NGA PATE LANDUT dibahen SiRANGSEL.
Buktina dah, holan mago ibana dibalik ni sappil-pil i, ittor asing do uap nangpe tok dao ibana mangiccir tu rabba-rabba i.
Jala museng, (maaf,maaf) ai sai umbau do (TOK KALEBAT /TOK JIM bau ) bom ni natua-tua dari pada bom ni dukak-dukak,
Alani amanta i, bage HAMBUR samudekna akka pidong SESSOR dohot pidong HATULLIK i, hapengna di sappilpil do ullomo roha ni pidong sessor, hape nga pas muse niENGGER dohot katapel i.
Dung HAMBUR akka pidong i, bage LUANGAN nama iba, alana ndang be dapotan NAMARKATAPEL i.
Terpaksa MULAK BALGING kale-kale.
hehehehe……memang molo tu urusan nasada i do (mambom) tung maol do akka natuatua i (nangpe guru ibana) untuk BERKATA SEJUJURNYA akke.?
Akibatna ? bage tok gok ma akka dosa ni natua-tua di hitaan alani pargabusonna.
hehehehe….sattabi di akka BAPA i (guru na dihitaan) na so olo mangiccir tu balik ni SAPPILPIL ateh, alai tu akka NATAGI dope, tong do dohonon ASA MANAT TU LATONG.
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
Juni 19, 2008 pukul 7:04 pm
Berarti pas do i? Bapak John Purba sama dengan Pak Jepur hian?
Sian Batugaja do ra Bapak i, dang sian Baringin.
Istri ni Bapak i do sian Baringin.
Juli 8, 2008 pukul 10:15 am
[...] MyPakkat [...]
Juli 13, 2008 pukul 1:47 am
HORASSSS PAKKAT
Tung massai sonang do roha molo adong inganan parpungu2an songon on ate,,,,,,gabe ni ingot akka masa2 marnonang dihuta……….dohot akka dongan
mago(DANG)………..sai anggiatma lam tu dengganna parjabuanta on…….sahat tabe tu sude dongan alumnus smp Neg.1…simarsik lulusan94…….LENNY MARLINA,,,,,,,,PIGA BEREI????@
September 9, 2008 pukul 7:19 am
horas ma di hita sude,tung macai sonang roha adong parpunguan ta,horas,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
September 20, 2008 pukul 11:03 am
horas.. au boru batak … au pinoparni si onom udon… masihol hian au tu pakkat…. nungga 6 taonnnn au dang mulak tu huta .. huta asliku di disibokare…..
September 20, 2008 pukul 4:10 pm
Horas ito boru Timambunan, molo binereng partukkoan ni par-Pakkat on, sai hira namulak do tiap ari iba tu Pakkat.
Selamat bergabung di Pakkatnews
Horas
September 22, 2008 pukul 12:15 am
Bah, Ai tong dope hapeng ito jumlahna ONOM HUDON i ?
Berarti ndang adong na MAPUTTAR jala Ndang adong na TAMBAH ningon dah.
Attong hubahen jolo puisi lomo-lomokku taringot bilangan bah.
“Laho marhuta SADA’.
PaDUA-DUA tu TIGA PANAH,
Disimpang OPAT topet di kakiLIMA,
Manuhor Poccal boanonna tu siONOMHUDON.
Panggadis i par SIPITUHUTA,
Mamboan Joring UALU HAJUT.
“SIA-SIA langkahku”, ninna ibana,
Huhut marsomba SAPPULUJARI.’
hahahaha…….. torushon jo kale-kale Sekretaris !
Horas Jala Gabe, Tetap Semangat dan GBU, Amen.
September 22, 2008 pukul 12:45 am
Horas ito br. Tinambunan…
Didia ma halak ito nuaeng… berarti taon 2002 ma ditinggalhon hamu Pakkat. Molo au terakhir sian Pakkat taon 2004 Tikki masa Tsunami di Aceh, pas tardidi dakdanak i di HKBP Pakkat. Nuaeng tinggal di Pontianak, alai bulan 1 dohot bulan 8 taon 2008 on mulak do ahu tu Medan alai olat ni Medan do, ala natua-tua ro tu Medan sian HauAgong.
Horas , selamat bekerja dan oraet labora
September 22, 2008 pukul 2:13 am
Sian TIGA PANAH sahat tu SIUALU OPPU dibilangi halaki SADA-SADA pangalakkana, OPAT taon matahe ditinggalhon halaki hutai, dung diari pa-SIAHON dirippu halaki nungga sahat tu inganan hadanahon nasida, alai disi juppa ujung ni parbalohan ni huta i, didok akka parjalang i ma: IKKON HU PALELENG-LELENG, DIRIPPU HAMU DANG PAR-HATUA ON AU!!!
Horas
September 22, 2008 pukul 2:39 am
To : Ito boru Tinambunan
Di Sibokkare dia do tahe hamu ? di Sibokkare julu manang di Sibokkare taruan manang Sibokkare Siantar , au pa hutambasang jae molo lao tu pakkat kani hamu ikkon lewaton muna do huta nami. Alana tingki doli-doli do pe iba sering do laho tu Sibongkare, biasama mangalului sirongkap ni tondi ( martandang )
Horasma.
GBU
Oktober 4, 2008 pukul 8:44 am
Horas di hamu sude akka dongan sahuta.
Oktober 5, 2008 pukul 5:04 am
Horas tong di hamuna, antar ise manumaeng hamu? Marga aha do hamu?
Horas.
Oktober 6, 2008 pukul 2:18 pm
Kami sedang proses penyelesaian surat-surat legalitas PT Pakkat Prima Patchouly, sementara kegiatannya sih dah dimulai. Tp mau bikin alamatnya gimana ya? Itu lho, yg dr temba naik ke atas kanan, arah si bambanon, yg ada aek sirahar dan sitolbaknya!! Massa kami bikin alamat sepanjang itu?haaaaaaaaa…..!Kalau dongan2 kuliat ada Jl. Kartini Pakkat, dll.
Bagaimana kalau dikasi aja nama Jl. Sepuratome, Sitinjo, Pakkat?!!! Perlu dukungan nih dari FIP, sebab SEPURATOME kayaknya buah2 pertama dari para intelektual Pakkat sejak kemerdekaan, sebab berdirinya thn 1946.
Rencananya kami mau bikin Taman Sepuratome di Sitinjo, persis menghadap 2 sungai aek sitolbak dan sirahar dan juga menghadap dolok pinapan– buat mejeng and rekreasi (kalau tidak ada halangan). Paling tidak rencananya dah ada khan!!! he he he! hi hi hi!
Atau mungkin ada nama lain yg lebih tepat??!! Tolong ya Parhobas Pos Pakkat diperhatikan! Kalo ga ada nama jalannya, gimana pula nanti pemerintah perbaiki jalannya?
Mauliate godang ma dihamu sude!!!
Oktober 7, 2008 pukul 3:11 am
Horas Ito, ini hanya usul aja dari saya.
Memang lucu kalau alamat PT-nya begini: Jl. Arah ke sibambanon dari Temba, yg dekat ke aek Sirahar itu heheehe.
Kalau usul saya sih sebaiknya tetap ada kantor pusat/Administrasinya di Pakkat supaya lebih memudahkan. Toh juga pasar ada di Pakkat, dari siambaton, parlilitan, napasikkam pasti nanti membawa hasil nilam mereka ke pasar pakkat. Nah kalau di pakkat semua jalan sudah ada namanya dan nomor rumah (itennnng jo akke, nomor ni jabu dope sibahason nimmu dah, hape halak nungga sahat tu bulan heheheh).
Tapi kalau misalnya mau tetap buat alamat kantor di sitinjo, sebaiknya ada yg turun lansung kesana, bicara dengan kepala desa dan camat di Pakkat. Saya kira dengan niat untuk memajukan masyarakat Pakkat, tidak sulit untuk mendapatkan nomenclatur yang dibutuhkan
Ai muse, inang uda ni parhobas ondo camat na di Pakkat i. KKN ni yeyeyeyyeeeee
Horas dan semoga sukses
Oktober 7, 2008 pukul 3:29 am
Hm..suatu rencana yang bagus. Saya melihatnya begini, kalau ada investor (saya menyebut Inang Berliana sbg investor), tentu karena melihat ada peluang bisnis (prospek). Orang yang profesional tetu sudah membuat hitung-hitungan. Lalu, apakah ada dampak ke Pakkat? Jawabannya ya !
Ada beberapa hal yang bisa membawa kemajuan :
1. Dengan perjanjian yang jelas antara petani dan pengusaha/investor yang fair, tentu akan menaikkan pendapatan petani. Indikator fairnya perjanjian itu, terlihata dalam kalkulasi investor bahwa para petani bisa mendapat penghasilan Rp 20jt/bulan.
2. Adanya bidang usaha lain, tentu akan menyerap tenaga kerja. Usaha ini tergolong UKM yang padat karya.
3. Daerah Pakkat akan dikenal dengan sentra penghasil komoditi tertentu.
4. PAD akan bertambah, sehingga diharapkan akan menunjang pembiayaan pembangunan infrastruktur di Pakkat.
Lalu, akan lebih bijaksana apabila bisnis ini dijalankan dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan hidup, sehingga tetap ramah lingkungan (seperti penggunaan pupuk non kimia/organik dalam pertanian dan pengolahan limbah pabrik yang juga ramah lingkungan).
Selanjutnya, setiap usaha/bisnis yang akan memberikan sumbangsih dalam kemaslahatan masyarakat banyak, tentu akan diterima dan dapat berjalan dengan baik.
Masalah nama jalan? Hmm..mungkin dirundingkan dengan masyarakat setempat, sehingga masyarakat dilibatkan. Dengan seperti itu, mereka seperti memiliki responsibility atas itu.
Horas
Oktober 7, 2008 pukul 5:39 am
Waaaaaaaaaaah! Masukannya keren2!
Baiklah! saya tentu harus bertemu dengan Ibu Camat kita menyangkut pendirian usaha ini. nanti sekaligus akan saya bicarakan tentang nama jalan setelah lebih dulu merundingkannya dengan masyaraka setempat sebagaimana disarankan oleh ito Tommy Sihotang.
Lah! kan Ibu Camat kita itu semarga lho dengan opung boruku br Marbun!……….. he he! Boleh dong!
Kami merasa lebih cocok di Sitinjo satu lokasi dengan pabrik dan lahan pembibitan yg harus terus diperhatikan. Disamping dlm hal nilam ini kami tidak memerlukan pasar tradisonal karn kami adalah pasar bagi petani. Kami tidak membeli minyak nilam tetapi daunnya agar kualitas terjamin sehingga pasar diluar terjamin dan langgeng.
Mengenai pupuk, kami memang menggunakan pupuk organik merek LOBO, produksi anak bangsa dan dikelola sendiri oleh group kami PT Bentaran Benian.
PT Bentaran Benian juga telah melihat potensi besar di Pakkat dan Parlilitan untuk pengolahan pupuk, dan tertarik untuk langsung memproduksi pupuk di kedua wilayah ini. Tentu saja melibatkan orang2 setempat sebagai manajemennya.
Kami tentu mengaharpkan dukungan semua pihak untuk maju bersama.
Horasma di hita sude!
November 8, 2008 pukul 1:39 am
Horas.. di hamu angka hula hula..
nga boha saonari perkembangan di hutanta di pakkat on. tong dope sai margedapi jolma di san ??
molo boi pamasuk hamu jo attong huta siranggason
marsidohot di situs muna on..
asa di bereng parsiranggason akka amanai anakna
di pangarattoan sambil mangguris..
mauliate
November 8, 2008 pukul 4:19 am
situs ta!!! hehehe, situs ni sude parpakkat do on
dang holan sahalak nampunasa on hehhe
kirim hamu ma foto-fotonai (siranggason) asa tatampilhon di partukkoanta on. Molo dihajuthon, dang adong dope foto siranggason bah…
Horas
November 12, 2008 pukul 7:03 am
bah,,
na katterra ngen,,
kade ngo i??
nda diboto ko kade na binahen mi,,
eaa,,
ku tenju nen takalmi da,,
hwuehehehe..
November 19, 2008 pukul 1:18 pm
Horas ma disita sudengan, sai malungun do iba molo mangida poto tugu ni pakkt on bah…
November 20, 2008 pukul 2:24 am
Horas ma di hita sasude!!!
katterra mo bamu kaltu Samuel Siregar? ai holan ido na huboto hahaha..
Desember 16, 2008 pukul 10:09 am
pindah ke http://www.pakkatnews.com/